kumpulan puisi sapardi djoko damono pdf

DjokoDamono. (2) Mendeskripsikan penggunaan citraan kumpulan puisi Ayat-Ayat Api karya Sapardi Djoko Damono. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data dalam tesis ini berupa kata, ungkapan, dan kalimat dalam kumpulan puisi Ayat-Ayat Api karya Sapardi Djoko Damono.Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik pustaka, simak, dan Rencontre Nationale Des 2cv Clubs De France. 0% found this document useful 0 votes52 views9 pagesCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsTXT, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes52 views9 pagesKumpulan Puisi Sapadi Djoko DamonoJump to Page You are on page 1of 9 You're Reading a Free Preview Pages 5 to 8 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. - Meninggalnya sastrawan, Sapardi Djoko Damono meninggalkan kesedihan bagi masyarakat Indonesia. Sapardi Djoko Damono dikabarkan menghembuskan napas terakhirnya di usia ke-80, Minggu 19/7/2020 sekira pukul WIB. Pria kelahiran Solo, 20 Maret 1940 ini kerap melahirkan puisi-puisi yang romantis dan menyentuh hati. Yang Fana adalah Waktu menjadi satu dari beberapa puisi romantis karya Sapardi yang sangat populer. Baca Sastrawan Sapardi Djoko Damono Tutup Usia, Jenazahnya Dimakamkan Minggu Sore di Bogor Bahkan puisi karyanya yang berjudul Hujan Bulan Juni diangkat ke layar lebar. Pujangga Sapardi Djoko Damono ikut berpartisipasi dalam Konser Gitaris Indonesia Peduli Negeri Musik dan Syair Solidaritas, di Bentara Budaya Jakarta, Kamis 11/10/2018. Lebih dari 60 gitaris Indonesia, musisi dan seniman ikut berpatisipasi dalam konser yang diadakan untuk mengumpulkan donasi bagi korban gempa di Sulawesi Tengah dan Lombok. Selain musik serta puisi, dalam acara tersebut juga diadakan lelang gitar, donasi puisi, serta workshop pembuatan tempe yang juga ditujukan untuk donasi. TRIBUNNEWS/HERUDIN TRIBUNNEWS/HERUDIN Berikut tujuh puisi cinta karya Sapardi Djoko Damono paling romantis dan menyentuh hati yang dikutip dari 1. Aku Ingin “Aku ingin mencintaimu dengan sederhanadengan kata yang tak sempat diucapkankayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhanadengan isyarat yang tak sempat disampaikanawan kepada hujan yang menjadikannya tiada” Puisi Aku Ingin menjadi salah satu karya Sapardi yang beralih wahana menjadi lagu, atau biasa disebut musikalisasi puisi. 2. Pada Suatu Hari Nanti “Pada suatu hari nanti,jasadku tak akan ada lagi,tapi dalam bait-bait sajak ini,kau tak akan kurelakan sendiri. Pada suatu hari nanti,suaraku tak terdengar lagi,tapi di antara larik-larik sajak ini. Kau akan tetap kusiasati,pada suatu hari nanti,impianku pun tak dikenal lagi,namun di sela-sela huruf sajak ini,kau tak akan letih-letihnya kucari.” Ilustrasi. Kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono, salah satunya Hujan Bulan Juni CNNIndonesia/Fajrian Jakarta, CNN Indonesia - Puisi Sapardi Djoko Damono memiliki tempat tersendiri di hati para penggemarnya. Meski beberapa puisinya sederhana dan singkat, tetapi karya-karyanya tersebut punya makna mendalam dan menyentuh hati. Salah satu puisi Sapardi yang terkenal berjudul Hujan Bulan Juni. Selain itu, masih ada beberapa karyanya yang tak lekang oleh waktu. Beberapa di antaranya adalah Duka-Mu Abadi, Yang Fana adalah Waktu, Perahu Kertas, Hatiku Selembar Daun, Sihir Hujan, Sajak Kecil tentang Cinta, dan masih banyak lagi. Sejumlah puisinya juga telah banyak digubah menjadi lagu atau dimusikalisasi sehingga membuatnya makin populer dikenal di kalangan anak muda. Puisi Sapardi Djoko Damono Ilustrasi. Kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono, salah satunya Hujan Bulan Juni CNN Indonesia/Safir Makki Dihimpun dari berbagai sumber, berikut kumpulan puisi dari sastrawan kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940 ini. 1. Duka-Mu Abadi Dukamu adalah dukakuAir matamu adalah air matakuKesedihan abadimuMembuat bahagiamu sirnaHingga ke akhir tirai hidupmuDukamu tetap abadi Bagaimana bisa aku terokai perjalanan hidup iniBerbekalkan sejuta dukamuMengiringi setiap langkahkuMenguji semangat jitukuKarena dukamu adalah dukakuAbadi dalam duniaku! Namun dia datangMeruntuhkan segala penjara rasaMembebaskan aku dari derita iniDukamu menjadi sejarah silamDasarnya 'ku jadikan asasMembangunkan semangat baruBiar dukamu itu adalah dukakuTindakanku biarkan ia menjadi pemusnahku! 2. Sementara Kita Saling Berbisik Sementara kita saling berbisikuntuk lebih lama tinggalpada debu, cinta yang tinggal berupabunga kertas dan lintasan angka-angka Ketika kita saling berbisikdi luar semakin sengit malam harimemadamkan bekas-bekas telapak kaki,menyekap sisa-sisa unggun api sebelum fajar Ada yang masih bersikeras abadi 3. Yang Fana adalah Waktu Kita abadi memungut detik demi detikmerangkainya seperti bungasampai pada suatu harikita lupa untuk apa "Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamuKita abadi 4. Perahu Kertas Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertasdan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenangdan perahumu bergoyang menuju lautan. "Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindumu itu. Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,"Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit" 5. Hatiku Selembar Daun Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumputnanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di siniada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luputsesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi. 6. Sihir Hujan Hujan mengenal baik pohon, jalan,dan selokan - suaranya bisa dibeda-bedakan;kau akan mendengarnya meski sudah kau tutup pintu dan sudah kau matikan lampu. Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuhdi pohon, jalan dan selokan -menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduhwaktu menangkap wahyu yang harus kau rahasiakan 7. Aku Ingin Aku ingin mencintaimu dengan sederhanadengan kata yang tak sempat diucapkankayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhanadengan isyarat yang tak sempat disampaikanawan kepada hujan yang menjadikannya tiada 8. Pada Suatu Hari Nanti Pada suatu hari nanti,jasadku tak akan ada lagi,tapi dalam bait-bait sajak ini,kau tak akan kurelakan sendiri Pada suatu hari nanti,suaraku tak terdengar lagi,tapi di antara larik-larik sajak akan tetap kusiasati, Pada suatu hari nanti,impianku pun tak dikenal lagiNamun di sela-sela huruf sajak ini,kau tak akan letih-letihnya kucari 9. Hujan Bulan Juni Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Junidirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Junidihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Junidibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu 10. Sajak Kecil tentang Cinta Mencintai angin harus menjadi siutMencintai air harus menjadi ricikMencintai gunung harus menjadi terjalMencintai api harus menjadi jilat Mencintai cakrawala harus menebas jarakMencintaimu harus menjelma aku 11. Sajak Tafsir Kau bilang aku burung?Jangan sekali-kali berkhianatkepada sungai, ladang, dan batu. Aku selembar daun terakhiryang mencoba bertahan di rantingyang membenci angin. Aku tidak suka membayangkankeindahan kelebat dirikuyang memimpikan tanah,tidak mempercayai janji api yang akanmenerjemahkanku ke dalam bahasa abu. Tolong tafsirkan aku sebagai daun terakhiragar suara angin yang meninabobokanranting itu padam. Tolong tafsirkan aku sebagai hasratuntuk bisa lebih lama bersamamu. Tolong ciptakan makna bagiku,apa saja - aku selembar daun terakhiryang ingin menyaksikanmu bahagiaketika sore tiba. 12. Ia Tak Pernah Ia tak pernah berjanji kepada pohonuntuk menerjemahkan burungmenjadi api Ia tak pernah berjanji kepada burunguntuk menyihir apimenjadi pohon Ia tak pernah berjanji kepada apiuntuk mengembalikan pohonkepada burung Itulah kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono yang populer. Semoga bermanfaat! juh Kumpulan Puisi Karya Sapardi Djoko Damono [dikutip dari SAJAK KECIL TENTANG CINTA mencintai angin harus menjadi siut mencintai air harus menjadi ricik mencintai gunung harus menjadi terjal mencintai api harus menjadi jilat mencintai cakrawala harus menebas jarak mencintaiMu harus menjadi aku PADA SUATU HARI NANTI pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi tapi dalam bait-bait sajak ini kau takkan kurelakan sendiri pada suatu hari nanti suaraku tak terdengar lagi tapi di antara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati pada suatu hari nanti impianku pun tak dikenal lagi namun di sela-sela huruf sajak ini kau takkan letih-letihnya kucari NOKTURNO KUBIARKAN CAHAYA BINTANG MEMILIKIMU KUBIARKAN ANGIN YANG PUCAT DAN TAK HABIS-HABISNYA GELISAH TIBA-TIBA MENJELMA ISYARAT, MEREBUTMU ENTAH KAPAN KAU BISA KUTANGKAP… KETIKA JARI-JARI BUNGA TERLUKA Ketika Jari-jari bunga terluka mendadak terasa betapa sengit, cinta kita cahaya bagai kabut, kabut cahaya di langit menyisih awan hari ini di bumi meriap sepi yang purba ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata suatu pagi, di sayap kupu-kupu disayap warna, suara burung di ranting-ranting cuaca bulu-bulu cahaya betapa parah cinta kita mabuk berjalan diantara jerit bunga-bunga rekah… Ketika Jari-jari bunga terbuka mendadak terasa betapa sengit, cinta kita cahaya bagai kabut, kabut cahaya di langit menyisih awan hari ini di bumi meriap sepi yang purba ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata HUTAN KELABU kau pun kekasihku langit di mana berakhir setiap pandangan bermula kepedihan rindu itu temaram kepadaku semata memutih dari seribu warna hujan senandung dalam hutan lalu kelabu menabuh nyanyian HUJAN BULAN JUNI tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu HATIKU SELEMBAR DAUN hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput; nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini; ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput; sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi. Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982. GADIS KECIL Ada gadis kecil diseberangkan gerimis di tangan kanannya bergoyang payung tangan kirinya mengibaskan tangis di pinggir padang,ada pohon dan seekor burung… DALAM DIRIKU dalam diriku mengalir sungai panjang darah namanya… dalam diriku menggenang telaga darah sukma namanya… dalam diriku meriak gelombang sukma hidup namanya… dan karena hidup itu indah aku menangis sepuas-puasnya… DALAM BIS langit di kaca jendela bergoyang terarah ke mana wajah di kaca jendela yang dahulu juga mengecil dalam pesona sebermula adalah kata baru perjalanan dari kota ke kota demikian cepat kita pun terperanjat waktu henti ia tiada… BUAT NING pasti datangkah semua yang ditunggu detik-detik berjajar pada mistar yang panjang barangkali tanpa salam terlebih dahulu januari mengeras di tembok itu juga lalu desember… musim pun masak sebelum menyala cakrawala tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu AKU INGIN Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada Sapardi Djoko Damono. Foto Instagram/damonosapardi Jakarta - Sastrawan Sapardi Djoko Damono menapaki usia ke-80 tahun, tepat pada hari ini, Jumat, 20 Maret 2020. Penyair senior itu terbilang masih produktif di umurnya yang kian senja, seolah memang waktu adalah fana, sementara ia dan karyanya akan lahir di Surakarta, 20 Maret 1940, sepanjang kariernya ia dikenal sebagai pujangga yang menuliskan hal-hal sederhana namun penuh makna kehidupan. Karyanya yang paling terkenal antara lain Hujan di Bulan Juni yang sempat diejawantahkan ke layar lebar, serta puisi romantis berjudul Aku Tagar rangkumkan sepuluh puisi fenomenal dari Sapardi Djoko DamonoIlustrasi hujan. Foto Antara/Aloysius Jarot Nugroho1. Hujan Bulan JuniTak ada yang lebih tabahdari hujan bulan JuniDirahasiakannya rintik rindunyakepada pohon berbunga ituTak ada yang lebih bijakdari hujan bulan JuniDihapusnya jejak-jejak kakinyayang ragu-ragu di jalan ituTak ada yang lebih arifdari hujan bulan JuniDibiarkannya yang tak terucapkandiserap akar pohon bunga ituAwan mendung terlihat dari kawasan Pluit, Jakarta, Kamis 9/1/2020. Foto Antara/Aprillio Akbar2. Aku InginAku ingin mencintaimu dengan sederhanadengan kata yang tak sempat diucapkankayu kepada api yang menjadikannya abuAku ingin mencintaimu dengan sederhanadengan isyarat yang tak sempat disampaikanawan kepada hujan yang menjadikannya tiadaDaun ulin. Foto Hatiku Selembar DaunHatiku selembar daunmelayang jatuh di rumputNanti dulubiarkan aku sejenak terbaring di siniada yang masih ingin kupandangyang selama ini senantiasa luputSesaat adalah abadisebelum kausapu tamanmu setiap pagiJam tangan Microbrand, Foto Timeindo4. Yang Fana Adalah WaktuYang fana adalah waktu. Kita abadimemungut detik demi detik, merangkainya seperti bungasampai pada suatu harikita lupa untuk apa“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamuKita abadiilustrasi hujan sangat lebat. Foto pixabay5. Kuhentikan HujanKuhentikan hujanKini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahanAda yang berdenyut dalam dirikuMenembus tanah basahDendam yang dihamilkan hujanDan cahaya matahariTak bisa kutolakMatahari memaksaku menciptakan bunga-bungaRuang tunggu di Bandara Soekarno Hatta Soetta yang sudah dilakukan pembatasan sosial. Foto Tagar/Selly6. Ruang TungguAda yang terasa sakitdi pusat perutnyaIa pun pergi ke dokterbelum ada seorang pun di ruang tungguBeberapa bangku panjang yang kosongtak juga mengundangnya dudukIa pun mondar-mandir sajamenunggu dokter memanggilnyaNamun mendadak seperti didengarnyasuara yang sangat lirihdari kamar periksaAda yang sedang menyanyikanbeberapa ayat kitab suciyang sudah sangat dikenalnyaTapi ia seperti takut mengikutinyaseperti sudah lupa yang manamungkin karena ia masih inginsembuh dari sakitnyaIlustrasi . Foto Johan Hultin/ Pada Suatu Hari NantiPada suatu hari nantiJasadku tak akan ada lagiTapi dalam bait-bait sajak iniKau tak akan kurelakan sendiriPada suatu hari nantiSuaraku tak terdengar lagiTapi di antara larik-larik sajak iniKau akan tetap kusiasatiPada suatu hari nantiImpianku pun tak dikenal lagiNamun di sela-sela huruf sajak iniKau tak akan letih-letihnya kucariilustrasi. Foto Angie Busch Alston/ HanyaHanya suara burung yang kau dengardan tak pernah kaulihat burung itutapi tahu burung itu ada di sanaHanya desir angin yang kaurasadan tak pernah kaulihat angin itutapi percaya angin itu di sekitarmuHanya doaku yang bergetar malam inidan tak pernah kaulihat siapa akutapi yakin aku ada dalam dirimuIlustrasi kolam. Foto Menjenguk Wajah di KolamJangan kau ulang lagimenjenguk wajah yang merasasia-siayang putihyang pasiituJangan sekali- kali membayangkanWajahmu sebagai rembulanIngatjangan sekali-kaliJanganBaik, TuanIlustrasi. Foto Pixabay10. Sajak TafsirKau bilang aku burung?Jangan sekali-kali berkhianatkepada sungai, ladang, dan batuAku selembar daun terakhiryang mencoba bertahan di rantingyang membenci anginAku tidak suka membayangkankeindahan kelebat dirikuyang memimpikan tanahtidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkankuke dalam bahasa abuTolong tafsirkan akusebagai daun terakhiragar suara angin yang meninabobokanranting itu padamTolong tafsirkan aku sebagai hasratuntuk bisa lebih lama bersamamuTolong ciptakan makna bagikuapa saja — aku selembar daun terakhiryang ingin menyaksikanmu bahagiaketika sore tiba. []Baca juga Sastrawan Sapardi Djoko Damono Meninggal DuniaBaca juga Foto Sapardi Djoko Damono, Sastrawan Legendaris IndonesiaBaca juga Jenazah Sapardi Djoko Damono Dimakamkan di Bogor

kumpulan puisi sapardi djoko damono pdf